Selasa, 26 Juni 2012

PERANG SALIB



Suatu ekspresi dari imperialisme abad pertengahan sebab-sebab :
1.      Faktor agama
Adanya perziarahan missal (Mass pilgrimage) Agama Kristen. Abad 11 sangat mempengaruhi bangsa Eropa. Oang-orang Kristen abad pertengahan mewakili perasaan yang dalam, mereka takut akan konsekwensi adanya dosa-dosa manusia, yaitu hukuman kekal oleh Tuhan. Untuk menghilangkan hukuman tersebut, orang menjalankan sesuatu sebagai pertobatan atau dengan menjalani suatu pekerjaan atau aktivitas keagamaan .Selama 400 tahun tipe aktivitas tersebut berupa perziarahan di tempat-tempat suci, yaitu Palestina (Israel). Dalam abad 11 timbullah kebangkitan keagamaan oleh gerakan Biara Clung, Gerakan Clung tersebut dibarengi dengan pembukaan aktivitas perdagangan dengan Timur Dekat, ratusan ribu para peziarah dari Eropa barat, Eropa Tengah dan Eropa Timur pergi ke daerah Levant (Timur Tengah). Pada tahun 1065 seorang Bishob dari Jerman memimpin ratusan ribu para peziarah. Tanpa adanya perziarahan-perziarahan ini, penaklukkan daerah yang dianggap suci ini tida akan berkembang.
2.      Religius was means of promoting unity.
Dalam abad 11 akhir, kekuasaan Paus mulai Nampak merosot. Sebagai contoh Paus Gregorius VII diturunkan dari tahta kepausannya oleh Raja Heinrich IV dari Jerman dan berakhir dengan kematiannya 1085. Para kardinal kemudian mengangkat  Urbanus II tahun 1088. Dia berasal dari kelas bangsawan, namun kemudian menjadi Padri dalam biara Clung dan berpengalaman sebagai asisten Paus Gregorius VII. Paus Urbanus berniat menyatukan gereja Kristen Barat (Katholik Roma) Gereja Kristen Eropa Timur (Ortodox/ Katholik Yunani). Maka dengan memerangi orang-orang Islam yang telah merebut daerah yang dianggap suci oleh orang-orang Kristen, Gereja-gereja yang telah terpecah akan lupa perbedaannya dan mau menjadi satu di bawah Paus.
3.      Sebab-sebab lain dibidang keagamaan.
Selama seabad, pemimpin-pemimpin agama di Eropa telah diganggu oleh pertikaian/peperangan umum antara para bangsawan (para Baran dan Ksatria), yang mengganggu ketentramanGereja. Hak-hak para padri, petani, rakyat umum, terinjak-injak, para pedagang banyak mengalami perampokan, bangunan-bangunan keagamaan dirusak dan dibakar. Maka Paus membuat policy untuk melindungi Gereja dan para anggotanya dengan menyelibkan pertikaian antar bangsawan ke peperangan melawan orang-orang Islam di Timur-Tengah.
4.      Surplus Idealisme
Idealisme oleh gerakan Cluny
Untuk menimbulkan fanatisme memusuhi agama-agama lain. Kecuali memusuhi orang-orang Islam juga pada akhirnya memusuhi orang Yahudi.
5.      Sebab-sebab Ekonomi (sebab timbulnya Perang Salib)
Tampak dari pidato Paus Urbanus II dalam Konsoli di Clerment yang minta supaya para ksatria-ksatria Perancis pergi ke Perang Salib untuk menaklukkan Palestina. Hal tersebut disebabkan tanah-tanah pertanian di Perancis khususnya yang mengakibatkan para bangsawan jatuh ke dalam hutang. Tanah-tanah untuk diwariskan sudah semakin langkah, posisi-posisi/jabatan di Gereja semakin lengkap. Sebagai akibatnya anak-anak keturunan kebangsawanan cenderung untuk memberontak dan membuat kacau.
6.      Sebab Khusus (the immediate cause of the Crusades)
Adanya ekspansi dari bangsa Turki Seljuk di Timur Tengah. Kira-kira tahun 1050 bangsa ini menyerbu ke Asia Barat dan menguasai kekhilafan Bagdan (Abosid). Kemudian menyerbu Syria, Palestina, dan Mesir. Tahun 1071 menyerbu wilayah Byziantium dan berada beberapa mil dari Konstatinopel. Setelah kematian Sultan yang besar yaitu Malik Shah, 1292 kerajaan Turki mengalami disintegrasi. Kesempatan bagi kerajaan Byziantium untuk bangkit, dibawah kaisar Elexius Commenus Byziantius merencanakan merebut kembali daerah-daerah yang telah direbut Turki Seljuk. Karena tugas ini berat, maka dimintanya bantuan dari Paus 1095 untuk bantuan militer. Maka Paus Urbanus II mengambil kesempatan ini. Dia mengundang dewan bangsawan Prancis dan padre-padri di Clermond untuk diajak memerangi bangsa Turki. Tahun 1096 berangkatlah tentara perang salib (massa rakyat) dari Prancis, Jerman ke Konstantinopel. Pertama memang berhasil menghancurkan kekuatan Turki di daerah orang –orang Kristen. 1098 sebagian besar daerah Syria direbut, setahun kemudian kota Yerussalem direbut, tetapi sementara saja. Tahun 1187 Yerussalem direbut kembali oleh orang Islam di bawah Sultan Saladesi dari Mesir. Akhirnya dalam akhir abad 13 semua daerah-daerah yang telah dikuasai oleh tentara perang salib di Timur Tengah direbut kembali oleh tentara Islam.
Ada beberapa alasan :
1)      Ekspedisi-ekspedisi tidak teroganisir secara baik
·         Tidak ada komando yang sama
·         Pertikaian antar para pemimpin ekspedisi
·         Tentara perang salib terdiri dari bermacam-macam suku bangsa,mengakibatkan sulitnya penaklukkan.
·         Ekspedisi-ekspedisi kehilangan tujuan semua dalam berperang yaitu memerangi bangsa Turki.
2)      Ambisi-ambisi dari Negara-negara di Eropa Barat dengan Eropa Timur.
Kaisar Alexius Xomnenus dalam permintaan bantuan kepada Paus Urbanus II untuk kepentingan perlindungan terhadap orang-orang Kristen Gereja Ortodox. Tetapi hal tersebut bukanlah tujuan utama. Kaisar Alexius menganggap inilah waktunya untuk mengusir bangsa Turki keluar dari Tanah Suci (Palestina) tetapi tujuan utama adalah merebut kembali daerah-daerah kekuasaannya dulu di Asia yang telah direbut bangsa Turki. Sebaliknya Paus Urbanus II bermimpi untuk mengusir bangsa-bangsa yang dianggap kafir dari The Holes Land dalam perang suci (Perang Salib) oleh Gereja Latin Tujuan utamanya bukanlah menyelamatkan kekaisaran Byzontion, tetapi untuk memperkuat orang-orang Kristen Latin, untuk menjunjung tinggi Paus dan mungkin juga untuk menyatukan gereja-gereja Barat dan Timur. Perpecahan antara daerah Barat dan Timur juga disebabkan oleh adanya ambisi pedagang-pedagang Barat dalam memperluas perdagangannya ke timur yang melalui Konstantinopel, dengan menghancurkan kota tersebut untuk kepentigan pedagang-pedagang Barat sendiri.
Pentingnya perang salib: ada yang menganggap sebagai sebab utama dari kemajuan Eropa pada jaman Feodal akhir. Karena mendorong berkembangnya kota-kota dagang yang memerosotkan system feodalisme. Para sejarawan modern menganggap bahwa pendapat tersebut di atas kurang salib, denagn alasan sebagai berikut :
(1). Kemajuan kebudayaan jaman Feodal sudah nampak sejak sebelum perang salib dimulai, yaitu sejak abad 8. Hal tersebut karena adanya perkembangan ekonomi dalam suasana aman, adanya kontak dengan orang-orang Islam dan kebudayaan Byzantium, pengaruh pendidikandi Biara-biara. Dalam periode berikutnya abad11, 12 pembangunan bidang perdagangan dan pertumbuhan kota-kota mengakibatkan kemakmuran dan kemerdekaan mendorong timbulnya dan perkembangan Renaissance (abad 13).
(2). Kaum terpelajar di Eropa pada umumnya tidak ikut serta dalam ekspedisi-ekspedisi, sebagai akibatnya para prajurit yang ikut perang salib adalah orang-orang yang bukan dari kalangan terpelajar dan mereka sudah barang tentu tidak memahami/tidak bisa menghargai studi mengenai Islam.
(3). Sangat sedikit dari prajurit perang salib sampai  di pusat kebudayaan Islam . Pusat kebudayaan Islam bukan di Yerussalem atau Antikhis, tetapi di Bagdad, Damacus, Toledo, dan Cordoba. Kemajuan intelektual Eropa adalah lebih karena kebangkitan perkembangan perdagangan dengan Timur Tengah dank arena pekerjaan para sarjana serta para penterjemah Spanyol dan Sisilia daripada pengaruh Perang Salib melawan Turki.
Perang salib bukan faktor utama terhadap perubahan politik dan ekonomi dalam abad pertengahan akhir. Kemerosotan Feodalisme terutama disebabkan adanya penyakit pes(the Blark Death), pertumbuhan ekonomi kota, timbulnya negara-negara/kerajaan nasional.
Akibat-akibat perang salib yang penting :
1.      Timbulnya emansipasi terhadap rakyat kecil. Para bangsawan yang tertekan karena butuh uang, menjual hak-hak istimewanya kepada orang-orang kota (Hak-hak istimewa: menarik pajak, jabatan-jabatan dalam masyarakat) dan penjualan hak-hak tersebut kepada serf (orang kalangan rendah).
2.      Para petani berkesempatan melepaskan diri dari kaum bangsawan dan keterikatannya dengan tanah.
3.      Dibidang Ekonomi adalah meningkatnya permintaan barang-barang dari Timur, pertumbuhan bank dan hilangnya Konstantinopel sebagai pemegang peranan perantara dalam perdagangan Timur-barat. Venesia, Genoa dan Pis kemudian menjadi pemegang monopoli dalam perdagangan di Laut Tengah.
4.      Berpengaruh pada tumbuhnya monarchi di Prancis dan Inggris dengan hilangnya peran kebangsaan dan raja dapat menarik pajak secara langsung.
5.      Di bidang agama yaitu merosotnya, prestige Paus : menganjurkan perang.
6.      Berkembangnya fanatisme agama yang mengakibatkan juga pengajaran terhadap orang-orang Yahudi yang menyebabkan penderitaan Yahudi di mana-mana. Sebab yang signifikan adalah sehubungan dengan perang salib melawan Islam.
Tentang Abad Pertengahan Eropa (Feodalisme)
Peristiwa-peristiwa sejarah jaman Abad Pertengahan Eropa di bagian Barat antara lain sebagai berikut :
I.            Feodalisme
Definisi dari feodalisme adalah suatu struktur masyarakat di dalamnya kekuasaan memerintah dipinjamkan oleh kepala daerah/Baron-baron kepada orang-orang yang secara ekonomis tergantung kepada kepala daerah. Hal tersebut adalah suatu sistem dari hubungan pertuanan (overlordship) dan ke vasalan di dalam mana hak untuk memerintah digambarkan atau to be conceived atau suatu hak dari seseorang yang memegang tanah (Fief).
“The relationship between the overlord yaitu Raja, Lord, Baron, penguasa dan para bangsawan and his in a contractual relationship involving reciprocal obligatives”
Para vassal terikat dan tunduk kepada Raja atauLord, Baron karena para vassal sudah karena para vassal sudah mendapat perlindungan dan bantuan ekonomi dan para vassal harus setia dan memenuhi kewajiban seperti bayar pajak-pajak dan menyediakan bala bantuan.
Feodalisme pada akhir Abad Pertengahan sebagian besar berasal dari lembaga-lembaga jaman Romawi Kuno, yaitu apa yang disebut :
1.      Clientage
2.      The colonate
3.      Precarium
4.      Late medieval feudalism was alor derived in large part from significant economic and political development of the early middle age. One of these was the growth of the institution of benifictim which seem to have been developed by the church as a modification of precarism.
Keterangan :
1.   Lembaga Clientage
     Lembaga ini tumbuh ketika dalam masyarakat Romawi Kuno terjadi kekacauan, karena menurunnya kejayaan Romawi Kuno, antara lain karena ekspansi bangsa indo Jerman (Arya). Akibatnya penduduk mencari perlindungan pihak masyarakat kaya untuk menjadi Client dan kehidupannya tergantung dari masyarakat kaya.
     Sementara itu kekaisaran Romawi semakin merosot, Clientage semakin meluas. Maka timbul Institusi ke II yaitu Cololate.
2.      Lembaga Cololate
Pemerintah kekaisaran Romawi Kuno untuk mengatasi kemerosotan produksi pertanian dalam abad 3-4 A.D, kekaisaran Romawi Kuno mengikat buruh-buruh tani dan penyewa-penyewa tanah pertanian di daerah-daerah sebagai koloni atau serfs (budak belian) secara efekttif ditempatkan dibawah control para pemilik dari tanah-tanah yang luas.
3.      Lembaga Precarium
Lembaga ini berkembang dalam jaman kemerosotan kekaisaran Romawi. Pada mulanya precarium adalah tanah pinjaman/sewaan. Si penyewa menggarap tanah tersebut dan membayar sewa kepada si pemilik tanah. Jika si penyewa gagal membayar sewa, si pemilik dapat mengusir si penyewa.
Masa-masa kemudian precarium kerapkali berbentuk penyerahan tanah dari si pemilik tanah kecil kepada masyarakat kaya dan berkuasa karena hutang-hutangnya yang tak terbayar dan memerlukan perlindungan. Dalam waktu yang sama petani-petani kecil mengikatkan diri untuk menggarap tanah dan bayar pajak kepada pemilik.
Colonate dan Precarium ini merupakan unsure yang penting dalam pertumbuhan feodalisme dari jaman kekaisaran Romawi Kuno ini yaitu dengan tumbuhnya kemakmuran/kekayaan dari para pemilik tanah.
Kemerosotan Feodalisme di Eropa dalam abad 11 dan abad berikutnya.
1. Sebab-sebab ekonomis
Revolusi ekonomi abad 11 dan abad-abad berikutnya kembali perdagangan dengan daerah Timur Dekat (near east) dan pertumbuhan dari kota-kota mengakibatkan peningkatan permintaanproduk dari pertanian. Harga-harga naik, sebagai konskwensi sebagai petani mampu membeli, kebebasan sebagai serf (budak). Lebih dari pada itu, ekspansi perdagangan dan industry menciptakan kesempatan-kesempatan baru untuk mendapatkan pekerjaan dan banyak serf pindah ke kota.
Sebab ekonomis yang lainnya ialah dengan dibukanya bahan-bahan baru untuk produksi pertanian yang menyebabkan meningkatnya harga lebih tinggi untuk produk pertanian/perkebunan. Para serf diberi janji pembebesan, asal bekerja membersihkan hutan pengeringan rawa-rawa.  Penyakit jampar berpengaruh juga dalam abad 14 A.D seperti factor-faktor ekonomi yang sudah disebut diatas, yaitu jarangnya buruh-buruh menyebabkan tenaga-tenaga buruh memaksa untuk pembebasan. Dengan pekerja (serf) menjadi orang-orang bebas menyebabkan sistem Manor tidak berkembang/mati, kepemilikan property dari sistem feodal mati.
2.      Sebab Politis
Timbulnya Negara-negara nasional. Setelah Raja Karel Agung wafat, kekuasaannya yang luas yang meliputi Eropa Barat abad 9 (wafat 814), dia mewariskan daerah-daerah kekuasaannya kepada 3 masyarakat anaknya yang sekarang (jaman modern), menjadi Negara Prancis, Jerman dan negeri belanda, belgia dan sekitarnya. Dan selanjutnya negeri itu masing-masing tumbuh menjadi Negara-negar nasional (national monarchy). Ini berarti struktur feudal hilang. Dengan timbulnya Negara-negara nasional, kekuasaan raja-raja/ lord menjadi besar atau tepusat atau bersifat sentral (sentralisasi). Karena keturunan Karel Agung, setelah memegang tumpuk kekuasaan di daerah kekuasaannya masing-masing mengubah system pemerintahan/politiknya yang desentralisasi dalam feodalisme menjadi sentralistis dalm negara nasional.
Kekuasaan Raja lambat laun semakin besar dan terpusat di tangan raja dalam Negara Nasional. Hal politik, ekonomi, keuangan  dari penguasa feodum (para vassal, adipati dan atau kaisar). Maka timbullah Negara nasional.
 Proses perubahan system pemerintahan feodal di Eropa Barat dimulai dari pemerintahan cucu-cucu Karel Agung yaitu Raja Louis IX (1226-1270) dan raja Philip yang elok (1285-1314).
Politik raja Philip dalam politiknya sangat luas ditentukan oleh kebutuhan mendapatkan milik Negara, tetapi caranya berdasarkan sebagian dari pertumbuhan populasitas dari hokum Romawi yang berdasarkan doktrin politik pemerintahan absolute dari kaisar Romawi atau Negara Romawi Kuno yang sudah runtuh. Disinilah Nampak dalam proses sejarah politik Jaman Eropa pertengahan, yaitu Nampak adanya factor development, change. Ambisi raja Philip untuk menaikkan penghasilan uang untuk Negara. Philip juga berusaha menarik pajak atas milik Gereja yang dimuati arti penting dan paling dalam. Hal itu menyebabkan kemarahan dan pertikaian dengan Paus yang mengakibatkan :
a)      Penaklukkan the subjection greja Katholik Perancis di bawah Kekuasaan Raja bukan Paus)
b)      The summoring/pemanggilan anggota rapat/ dewan yang terdiri dari kaum agama, bangsawa, dll.
Dengan tumbuhnya kerajaan/ Negara-negara nasional di Prancis, tumbuh pula Negara yang berpemerintahan/berbentuk absolute. Di Eropa di Prancis, Austria, Spanyol, Jerman pengaruh ekonomi merkantilismeeabad 17 di Eropa yang menumbuhkan pemerintahan Raja absolute. Revolusi perdagangan di Eropa 1400-1700 dalam tahap akhir dibarengi dengan doktrin dan praktek dalam dunia perdagangan yang disebut mercantilisme. Dalam arti luas mercantilisme dapat diartikan sebagai suatu system campur tangan daripemerinah dalam memajukan kemakmuran dan meningkatkan kekuatan Negara. Program ekonomi mercantilisme ini juga merupakan program politik secara luas. Mas jaya dari mercantilisme antara tahun 1600-1700, sampai abad 18 akhir di Eropa.
Teori ekonomi yang dominan dalam abad 16-17 di Eropa mengajarkan :
1). Ekonomi nasional yang bertujuan mencukupi diri sendiri sebagai tujuan dari seiap
     Negara besar.
            2). Mengusahakan mengakumulasi cadangan emas, perak di dalam negeri sendiri. Hal ini mengakibatkan Negara di Eropa mencari sumber emas, perak diluar Eropa, antara lain di Amerika Latin yang menimbulkan penjajahan di benua tersebut oleh Negara Spanyol, Portugis. Hal tersebut diikuti negara lain di Eropa.
3)      Prinsip dari politik ekonomi merkantilisme juga mengusahakan sebanyak mungkin menjual barang dagangan dari dalam negeri, dijual ke luarnegeri. Atau menggalakkan ekspor dari padaimpor.
4)      Modal ke luar negeri harus dicegah dengan cara mengamankan koloni/ jajahan untuk persediaan bahan-bahan mentah (hasil perkebunan, pertanian) sebagai ganti emas dan perak
Kesimpulan dari timbulnya politik ekonomi merkantilisme dan tumbuhnya Negara-negara nasional di Eropa mengakibatkan kekuasaan para Raja (lord) semakin bertambah besar dan kekuasaan seluruh negra memusat kepada raja. Kekuasaan raja absolut inilah yang nanti diruntuhkan oleh Revolusi Prancis 1789 oleh raja Louis XIV, Louis XV, dan Louis XVI. Salah satu sebab dari timbulnya Revolusi Prancis adalah feodalisme.


























Sejarah Eropa


BAB I
PEMBUKAAN

1. Persoalan

Menulis sejarah dunia, boleh dikatakan hanya terdapat dalam peradaban barat. Sir Walter Raleigh, seorang prajurit orang istana penemu daerah baru dan seorang penyair dalam zaman Elizabeth ratu Inggris. Sejarah itu dimulainya selama ia dipenjarakan dalam Tower of London (1603-1616). Di Eropa abad ke-18, bersemi kesadaran, bahwa seluruh manusia dan dunia kita ini merupakan suatu kesatuan. Dalam zaman itu Voltaire menulis buku, yang umum diakui sebagai sejarah dunia pertama dalam arti modern.
Di Eropa sejak Aufklarung abad ke-18, telah ada pendapat, bahwa picik dan salah menganggap Eropa Nasrani sebagai satu-satunya pusat peradaban  dan menganggap sisa dunia sebagai daerah   kafir atau biadab.  Sekarang orang mencari keterangan, mencari sebab-musabab kekuasaan Eropa itu. Hal-hal apakah yang mengakibatkan, bahwa sejak kira-kira 1600  Eropa tidak hanya dapat menduduki Amerika dan Australia dengan jalan mendesak penduduknya yang sedikit jumlahnya, tetapi dapat menguasai Asia yang padat penduduknya, dan akhirnya menguasai hampir seluruh Afrika.
Ternyata bukan hanya faktor-faktor geografi, demografi, ethnologi atau faktor rohani, yang dapat memberikan keterangan yang kita cari dan bukan pula kombinasi dari keempat faktor itu. Jadi dapat kita mengambil kesimpulan, bahwa faktor-faktor itu hanya berpengaruh dalam tingkat tertentu dalam perkembangan sejarah Eropa. Jadi bagi kita tak ada lain dari pada faktor-faktor sejarah, yang memberikan kedudukan istimewa kepada Eropa, yang bersifat  sementara didunia ini.
2. Faktor Georafi
    a. Luas daerah
       Eropa bukan tergolong benua yang terbesar, bahkan termasuk benua yang terkecil. Luas permukaaan bumi kita kira-kira 512 juta km persegi. Sebagian kecil terdiri atas daratan yakni 29%, sedangkan air 71%. Daratan yang merupakan 29 % dari permukaan bumi menjadi lima benua masing-masing luasnya : Asia 44,2 juta km persegi,( Amerika  41,4 juta km persegi, Amerika Amerika utara 24,1 juta dan Amerika Selatan 17,8 juta km Persegi), Afrika 29,8 juta km persegi masih tiga kali   seluas Eropa yang luasnya  hanya 9,97 juta km persegi, Australia benua terkecil dengan luas 8,9 juta km persegi. Melihat angka-angka itu, jelas bagi kita bahwa kekuasaan Eropa antara 1600 dan 1900 tidak mungkin disebabkan karena luas benua itu. Dalam sejarah Indonesia dapat kita ketahui bahwa luas bukan suatu faktor yang menentukan. Nederland, negara kecil selama satu abad lebih termasuk negara besar dan hingga kini dapat mempertahankan diri sebagai negara yang mempunyai jajahan. Dalam abad ke-19, walaupun Turki dan Tiongkok luas daerahnya, kedua negara itu tidak memainkan peranan penting dalam sejarah dunia.
b.  Iklim
     Iklim sebagai faktor geografi kedua, mungkin ada artinya disamping faktor luas daerah tadi. Tak dapat disangkal bahwa iklim memang besar pengaruhnya atas perbuatan manusia. Karena Eropa terletak  dizone sedang mungkin kita mengira telah menemukan jejak yang kita cari. Jika iklim sedang itu ada pengaruhnya, jangan kita lupakan bahwa Asia dan Amerika, besar daerahnya terletak  dalam zone itu, tetapi dalam perkembangannya lain dari Eropa. Dalam sejarah ada contoh, bahwa suatu daerah berturut-turut mengalami masa perkembangan, masa menguasai daerah sekitarnya, tetapi kemudian mengalami keruntuhan dan kemusnahan, sedangkan iklim daerah itu tetap tidak berubah. Menurut dugaan orang, zaman es dalam zaman Pra Sejarah membawa perubahan iklim dan terjadi pula perpindahan bangsa-bangsa sebagai akibatnya. Akhirnya dalam zaman sejarah, kita lihat bahwa perubahan geologi-klimatologi dapat membawa perubahan dalam nasib manusia. Tetapi hal itu hanya merupakan perubahan kecil saja, garis besar tak dapat diterangkan dengan faktor  iklim itu.
     c. Letak daerah
         Pada umumnya kesimpulan kita adalah ialah, bahwa baik luas, baik iklim, baik letak suatu daerah, jada faktor-faktor geografi tidak menentukan sejarah manusia walaupun faktor itu tak dapat diabaikan. Sebaliknya sebagai segala kehidupan, maka azas sejarah ialah perubahan hidup dibumi ini selalu memperlihatkan dua hal, yakni pemabaharuan dan menjadi tua : membangun sel-sel baru, merombak yang lama, timbullah individu baru dan lenyaplah individu lama. Demikian pula sejarah merupakan suatu proses pembangunan dan perombakan. Nama-nama benua dapat dipergunakan sebagai keterangan tentang pimpinan Eropa di dunia ini selama berabad-abad. Rupa-rupanya sejak dahulu, benua Eropa keluar suatu aktivitet, Eropa yang lebih tepat dinamakan bagian benua.
3.   Faktor Demografi
      Jumlah penduduk dunia dalam pertengahan abad ke-17 Kira-kira  550 juta. Asia 330   juta, Eropa 100, Afrika 100 juta, sisanya bagi Amerika dan Austalia. Perhitungan tahun  1750 dan 1850, angka bagi tahun 1750 : Asia 479 juta, Eropa 266 juta. Dari sini dapat disimpulkan bahwa jumlah penduduk suatu benua tidaklah menentukan peranan penting yang dijalankan oleh benua itu. Tetapi penduduk Eropa dahulu dan sekarang agak lebih menunjukkan persatuan daripada penduduk yang mendiami benua Asia. Tetapi salah pula, jika kita katakan bahwa jumlah penduduk sama sekali tak ada artinya bagi kedudukan atau martabat negara itu. Peperangan Xerxes, Napoleon, dan Hitler ke Rusia itu akhirnya kandas karena luas daerah itu.
4.   Faktor Ethnologi
      Jenis manusia yang mendiami suatu benua, dapat menentukan kekuasaan dan adakah suatu yang lebih tinggidari bangsa lain? Bangsa yang bukan Yunani, disebut barbar oleh bangsa Yunani. Orang Amerika Serikat zaman kita menamakan negerinya: God’s Own Country. Tetapi rasa itu sangat istimewa pada bangsa kulit putih, belum terjadi dimanapun juga hal semacam itu. Karena dalam waktu yang sangat lama dapat menguasai bangsa lain. Maka seakan-akan mereka memperoleh bukti tentang kelebihan mereka. Karena jenis kulit putih jumlahnya mengalahkan jenis lain, mungkin karena itu orang membayangkan bahwa kedudukannya yang istimewa itu memang tugas jenis yang terbesar, atau memang sebagai akibat jumlah mereka yang melebihi jenis lain. Demikian pula tak ada hal-hal yang dapat dipakai sebagai petunjuk, bahwa kedudukan istimewa dalam dunia itu, adalah karena pembawaan, karena kodrat apa yang telah ditetapkan.Tak ada superioritet jenis bangsa karena kodrat yang akan dapat kita pakai sebagai keterangan, mengapa bangsa kulit putih sangat istimewa kedudukannya.
5.   Jiwa Eropa
       Tak dapat dibantah memang ada perbedaan jiwa, perbedaan mentalitet, perbedaan sikap antara penduduk benua dan negara. Tetapi jika diperhatikan, perbedaan antara jiwa itu lebih terbatas pada perbedaan bentuk fisik. Orang yang mempelajari jiwa orang Eropa Abad pertengahan dari lembaga-lembaga, dari tulisan, kesenian akan menemui hal-hal asing bagi orang Eropa zaman sekarang Orang Timur menurut kodratnya sopan santun. Tetapi jika kita lihat menurut sosiologi dan ilmu sejarah, bagaimana sikap manusia pada umumnya terhadap pekerjaan, suatu fungsi yang sangat penting dalam masyarakat akan tetapi sikap itu dimana-mana sama, sama dengan sikap orang Eropa hingga akhir Abad pertengahan, apa yang kita sebut pola umum. Penyimpangan dari pola umum itu tak terdapat pada bangsa lain melainkan pada dunia barat sesudah abad pertengahan.
BAB III
BANGSA YUNANI
Pantai Eropa lebih banyak tanjung dan teluknya daripada Asia. Dibelakang teluk yang jauh masuk ke darat itu kita lihat kota-kota Yunani yang dipisahkan oleh pegunungan tinggi dari daerah belakangnya. Karena itu penduduk pesisir itu telah lama mengarahkan pandangannya ke laut. Polis-polis Yunani yang timbul sebagai pelabuhan dagang lepas dari suku bangsanya, lepas dari taradisi lamanya. Polis itu didiami oleh masyarakat merdeka, yang mempunyai pemerintahan sendiri. Polis itu terbuka bagi hubungan dengan seluruh dunia. Bangsa Yunani bukan bangsa asli tempat itu. Mereka datang dari utara kira-kira 1400 sebelum masehi. Disepanjang pesisir Asia kecil yang banyak pula tanjung dan teluknya mereka mendirikan tempat berdagang dengan dunia timur. Pos-pos terdepan itu kemudian menjadi koloni Yunani.
 Peradaban Yunani bercorak : kekotaan, burjois, dan duniawi. Kekotaan artinya polis Yunani itu merupakan sebuah negara kecil yang merdeka. Burjois dan duniawi maksudnya yang menjadi pendukung kebudayaan bukan suatu golongan yang dilindungi oleh raja, melainkan penduduk kota itu sendiri. Asal mula kebudayaan Yunani adalah dari koloni-koloni dipantai barat Asia kecil : Ephesus, Milete, smyrna dll Dikoloni yunani disamping perdagangan timbul industri kecil, hingga timbul suatu golongan pekerja tangan kota. Penduduk yang telah makmur hidupnya dan mempunyai banyak waktu luang, dapat memikirkan soal-soal kebudayaan. Dalam abad ke-6 Yunani memiliki Corak yang lain. Sebagai contoh tentang hukum, bagi bangsa Yunani hukum memang berasal dari dewata, tetapi hukum itu dirumuskan dalam perwakilan rakyat atau ecclesia. Penduduk Yunani menentukan sendiri apa yang disebut hukum atau dikte. Undang-undang yang dibuat sendiri oleh manusia itu mempunyai kekuasaan diatas manusia. Orang yang tunduk kepada kekuasaan itu, bukan karena takut atau hendak merendahkan diri, melainkan karena swa-disiplin. Hukum tertinggi ialah kepentingan negara. Individu harus tunduk kepada undang-undang, yang dibuat sendiri oleh masyarakat.
Kebudayaan yunani dibangun atas fikiran sehat. Satu segi yakni sifat-sifat yang menyebabkan terjadinya permulaan perkembangan Eropa, yang menyimpang. Perkembangan itu menyebabkan Eropa melepaskan diri dari yang kita sebut pola umum. Dasar baru itu menurut mereka ialah pengetahuan, khusus ilmu pasti. Hal yang praktis itu diambil juga oleh bangsa Yunani, tetapi disamping itu mereka mempelajari ilmu pasti, karena benar-benar ingin tahu, sebagai permainan pikiran yang mengikat hati. Tetapi yang pokok ialah langkah menentukan dalam sikap terhadap pengetahuan, berfikir dengan abstraksi, abstraherend denken, maksudnya berfikir dengan melepaskan diri dari hal-hal yang khas untuk membentuk suatu pengertian yang melingkupi suatu deretan peristiwa. Sifat lain yang khusus juga bagi kebudayaan unani ialah sikap objektif dan bebas terhadap alam. Dalam keadaan iklim semacam ditanah Yunani itu, lebih mudah timbul pikiran besar untuk menguasai alam daripada iklim daerah panas dan klim daerah kutub. Dalam alam pikiran Yunani manusia mendapat kedudukan istimewa antara alam dan dewa. Dalam gambaran alam bangsa Yunani bukanlah dewa atau alam yang menjadi pusat, melainkan manusia sendiri. Bangsa Yunani  menganggap keseluruhan sejarah manusia sebagai bagian dari kejadian kosmis, sebagai sebagian dari alam, yang mengalami perulangan yang tak ada henti-hentinya.
Sebagai ikhtisar sumbangan bangsa Yunani kepada jiwa Eropa atau dapat dikatakan sumbangan kepada perdaban dunia, dapat kita ringkas menjadi 3 bagian :
a)      Kesanggupan abstraksi, memahami sesuatu denagn meringkaskannya dalam kesatuan pengertian.
b)      Mengamati sesuatu dengan sikap bebas, tidak terikat oleh pikiran atau paham yang telah ada sebelumya.
c)      Kedua sumbangan bangsa Yunani kepada jiwa Barat itu rapat hubungannya dengan sumbangan ketiga : sikap baru terhadap alam, melepaskan diri dari alam, tidak lagi menyerah dan tunduk pada alam, melainkan menempatkan diri berhadapan dengan alam, yang dianggap sebagai objek, yang akan diselidiki dan akhirnya penguasaan alam itu oleh manusia.