Kamis, 05 Januari 2012

Jepang Negara Imperialisme dan Penyebab Jepang Menduduki Indonesia


1.      Jepang  Sebagai  negara Imperalisme
Jepang menjadi negara imperialisme atau negara yang melakukan ekspansisionis di latar belakangi beberapa penyebab, antara lain:
1.      Adanya perkembangan Jepang dalam segala bidang mengakibatkan berlipat gandanya pertambahan penduduk
2.      Adanya perkembangan industri yang begitu pesat, butuh daerah pasaran dan bahan mentah demi kelangsungan proses industrialisasi
3.      Adanya restriksi (pembatasan) imigran jepang yang dilakukan oleh negara-negara barat
4.      Pengaruh ajaran Shinto tentang Hakko I Chi-u (dunia sebagai keluarga)
5.      Ingin menjadi negara besar yang sejajar dengan negara – negara besar seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Perancis.
Walaupun Jepang terdiri atas ribuan pulau, namun luasnya tidak besar dan miskin akan bahan tambang dan hanya sebagian kecil yang dapat di usahakan sebagai pertanian yang hasilnya hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan sendiri. Berbeda dengan Indonesia ya memmpunyai banyak pulau, saking banyaknya susah untuk diapalin. Padahal kalo disbanding jepang kita banyak lahan untuk ditanami berbagai komoditi baik itu untuk kebutuhan sehari hari seperti padi dan sebgainya juga bahan hutan , kayu kayu yang ada dikalimantan dan papua itu gede gede loh. Bahkan kita mempunytai banyak bahan tyambang misalnya batu bara di Kalimantan, emas di jaya pura terus minyak bumi di porong sido arjo, namun sayangnya kekayaan alam kita dikeruk oleh bangsa lain dan ita hanya mengais ngais dari sisa sisa mereka aja. Kembali ke topic,  Selain itu pertumbuhan penduduk yang cepat menyebabkan sulit untuk mencari lapangan pekerjaan yang dapat memberi kehidupan yang baik. Terlihat dari letak geografis Jepang yaitu negara yang memiliki luas 381.269 km dan terdiri empat pulau besar yaitu besar yaitu : pulau Honshu,Pulau Shikoku, Kyushu, Hokkaido, terletak diantara 30-50 , jauh bgt ma Indonesia ya ……
Latar belakang Jepang sebagai negara imperialisme, di lihat dari sejarah Jepang Sebelum Perang Dunia II penduduk Jepang sangat padat, sedangkan hasil bahan pangan sedikit dan dalam mengatasi masalah itu Jepang berusaha di bidang perdagangan, industri serta membatasi laju pertumbuhan penduduk. Jepang berjiwa militeris dan  ekspansionis sejak pemerintahan wangsa Fujiwara(858-1069) Jepang aristokratis. Kekuasaan tertinggi di tangan para bangsawan.
Masa pemerintahan wangsa Fujiwara berakhir tahun 1192 akibat adanya perang antara kaum bangsawan.
kekuatan paling atas pada masyarakat Jepang adalah Tenno serta keluarganya yang tinggal di istana di Kyoto. Tenno tidak memerintah rakyat langsung tapi hanya boneka saja. Dibawah Tenno adalah Shogun (kayak merk motor ya) yang memegang kekuasaan tertinggi di Jepang yang tinggal di istana kemiliteran di Yedo beserta keluarga. Dibawah Shogun ialah Daimyo yaitu bangsawan yamg mempunyai kedaulatan besar, berhak memungut pajak, berhak menjalankan peradilan dan hak-hak sipil. Di bawah Daimyo adalah Samurai yaitu petani, pedagang, seniman. Bangsa Jepang mulai merantau ke Asia Tenggara dan bekerjasama dengan bangsa Eropa yang datang ke negara timur untuk berdagang dan nenyebarkan agama nasrani. Hal ini membawa perubahan untuk perdagangan Jepang yang semakin pesat bagi pedagang sedangkan kedudukan kaum tani semakin lemah sehingga menyebabkan pemberontakan. Akhir zaman Muromachi di warnai perang saudara sehingga muncul tiga orang yang kuat menghentikan peperangan yaitu Oda Nobunaga, Toyotomi Hideyoshi, Togugawa Ieyashu. Pemerintahan Togugawa perdagangan semakin maju dan penyebaran agama nasrani  semakin intensif namun  menyebabkan konflik agama dan budaya sehingga di adakan peraturan yang melarang tersebarnya agama nasrani  dan menutup bangsa asing masuk ke Jepang hanya Belanda dan Cina yang boleh masuk tapi di batasi pada  Pulau Desima dan Nagasaki  sehingga terbentuk pola masyarakat tertutup. Tingk Amerika Serikat Millard Fillmore pada Shogun.
Bulan Maret 1856 Shogun Togugawa menandatangani perjanjian Kanagawa yang berisi, Jepang mengizinkan pembukaan pelabuhan Shimoda dan Hakodata bagi kapal- kapal asing.
Para pedagang menjadi kaya namun bangsawan dan samurai banyak yang  jatuh miskin. Setelah dua setengah abad Jepang menutup dari bangsa asing akhirnya membuka diri dari bangsa asing lagi, dan pada tahun 1853 kapal Komodor Matthew C. Perry  pimpinan komando skuadron Amerika Serikat di kawasan Hindia Timur muncul dan mendekat pada teluk Yedo dan membujuk pemerintah Jepang agar di perkenankan berlabuh dan menyampaikan pesan Presiden Persetujuan tersebut tidak pada seluruh bangsa Jepang sehingga menimbulkan kekacauan ekonomi rakyat kecil semakin miskin dan kekacauan tersebut di manfaatkan oleh bangsa luar kota untuk melakukan perebutan kekuasaan terhadap para  bangsawan kota yang memegang kendali pemerintahan yang di kenal dari klan Choshu dan Satsuma kedua klan tersebut bergabung dan bekerjasama dengan Tenno sehingga kedudukan Shogun tersudut.
Tahun 1867 Shogun Tokugawa menyerahkan kekuasaan pemerintahan Jepang kepada Tenno dan diganti oleh Tenno Mutsuhito yang terkenal Kaisar Meiji. Meiji tidak terpengaruh terhadap desakan agar Jepang mengusir orang- orang asing yang datang Kaisar Meiji tetap melaksanakan politik terbuka untuk bangsa asing yang datang dengan kesadaran bahwa bangsa barat lebih unggul di segala bidang sehingga Dia mengarahkan pandangan ke dunia barat. Restorasi Meiji berupaya untuk menjadikan Jepang sebagai negara modern dengan meninggalkan gaya hidup feodalistik.
Nah di masa meiji ini jepang mengalami kemajuan antara lain yaitu:
a.       Bidang politik yaitu rasa persatuan dan kesatuan yang kokoh dari seluruh bangsa Jepang.
b.       Bidang pendidikan yaitu tahun 1871 di bentuk kementrian yang mengurus pendidikan.Dalam bidang pendidikan Jepang banyak mencontoh pendidikan bangsa barat seperti administrasi Jepang meniru cara yang di gunakan oleh bangsa Prancis.
c.       Bidang perekonomian yaitu perekonomian yang feodal diganti dengan perekonomian model kapitalis,didirikan industri berat khususnya yang berkaitan dengan kebutuhan militer.
d.       Bidang spiritual yaitu rakyat di beri kebebasan memeluk agama dan agama nasrani di ijinkan untuk berkembang, rasa nasionalisme di pupuk.
e.       Bidang kemiliteran yaitu pendidikan militer di tingkatkan dan yang di didik tidak hanya para samurai tetapi juga anak-anak petani, pedagang,di buat kapal-kapal di berbagai kalangan.
Pada pemerintahan Kaisar Meiji terjadi dua kali perang yaitu dengan Cina ( 1894-1895) dan Uni Soviet ( 1904-1905) dan mengadakan persekutuan dengan Inggris juga  menaklukan Korea ( 1910).
Dari perkembangan yang bertahap itu Jepang mengalami perkembangan pada saat pemerintahan Kaisar Meiji khususnya di bidang industri namun karena negara Jepang tidak memiliki bahan yang cukup dari negaranya sendiri maka Jepang harus mengimpor dari negara lain. (Indonesia mesti)
Pemerintah Jepang memang tidak dapat menolak kepentingan Amerika Serikat dan Inggris karena secara ekonomi mereka masih sangat bergantung pada kedua negara tersebut. Lambat laun, seiring dengan semakin menebalnya nasionalisme pada diri bangsa Jepang, berbagai kebijakan tersebut oleh sebagian masyarakat Jepang dianggap sebagai upaya mengerdilkan kembali bangsanya dalam pergaulan internasional. Untuk melepaskan ketergantungan ekonomi kepada negara-negara Barat seperti yang dilakukan oleh gandi satya graha, bangsa Jepang berusaha untuk menguasai wilayah-wilayah yang dipandang memiliki sumber daya alam vital, seperti minyak bumi.
Sejak Perang Dunia I Jepang sudah tertarik pada Indonesia (tu kan bener Indonesia) yang terlihat kaya dari segi ekonomi, strategis, dan politik. Berkaitan dengan ini, Angkatan Laut Jepang memandang wilayah Selatan, khususnya Indonesia, sebagai daerah yang harus dikuasai oleh Jepang. Bagi Jepang Indonesia sangat berharga juga kaya akan bahan – bahan mentah untuk keperluan industri Jepang seperti minyak, karet, timal, nikel, bauksit, mangan dan lain – lain. Pandangan Angkatan Laut Jepang terhadap Indonesia  Bangsa Jepang perlu mengamankan wilayah-wilayah yang mendukung proses industrialisasinya, baik wilayah yang memiliki sumber daya alam maupun wilayah yang memiliki potensi sebagai pasar hasil industrinya. Dengan perkataan lain, ekspansi yang dilakukan Jepang ke Indonesia tidak dapat dilepaskan dari upaya Pemerintah Jepang untuk memperluas ruang penghidupannya (lebensraum), baik secara politik maupun ekonomi.
Selain itu penduduk Indonesia yang padat bagi Jepang baik untuk pemasaran barang – barang hasil industrinya. Untuk melancarkan pemasarannya barang – barang hasil produksinya Jepang mengirim orang – orang Jepang ke Indonesia dan orang – orang tersebut sebagai penyalur.  Jepang juga sebagai pengumpul bahan-bahan mentah yang akan di kirim ke Jepang seperti kopra (daging kelapa yang di keringkan) dan lain-lain. Selain itu juga sebagai mata-mata untuk mencari informasi bagi kepentingan Jepang. Hubungan Jepang dengan Amerika Serikat saat itu mulai renggang karena Amerika Serikat curiga akan tingkah laku Jepang di Timur jauh yang agresif dan ekspansionistis. Penguasaan terhadap wilayah ini akan menjamin hidup bangsa Jepang yang memang tidak memiliki sumber daya alam yang melimpah. Dalam perkembangan selanjutnya, orang-orang Belanda ini menjadi perantara bagi orang-orang asing yang ingin melakukan perdagangan dengan bangsa jepang. Kenyataan tersebut oleh Amerika Serikat dipandang sebagai sesuatu yang tidak konsisten dan akan menjadi penghalang bagi kepentingan negaranya di Cina. (perang aja sana hahahahah )
Pertumbuhan Jepang sebagai negara Imperialis Sampai dengan pertengahan abad ke-19, Jepang masih merupakan sebuah negara tradisional yang memperlihatkan ciri-ciri kehidupan feodalistik. Keadaan ini disebabkan oleh penerapan kebijakan politik isolasi diri oleh Rezim Tokugawa yang berkuasa di Jepang sejak tahun 1603. Dengan kebijakan feodalistik bangsa Jepang tidak mau membuka negaranya bagi negara-negara asing karena merasa khawatir  kebudayaan mereka akan terpengaruh oleh kebudayaan Barat namun Rezim Tokugawa masih mengizinkan orang-orang Belanda.
Jepang mengalami kekacauan politik yang berdampak pada melemahnya perekonomian negara. Hal ini mengakibatkan kewibawaan Rezim Tokugawa di mata bangsa Jepang semakin melemah oleh karena itu melahirkan kesadaran nasional yang disimbolkan dengan munculnya gerakan anti-orang asing pada tahun 1860an yang dipelopori oleh kaum bangsawan desa atau kaum samurai rendahan (shishi). Gerakan ini memperlihatkan semangat patriotisme dalam pengertian sonnojoi yang bermakna ‘muliakan kaisar dengan cara mengusir orang-orang biadab’. Kekacauan politik tersebut bermuara pada peristiwa perebutan kekuasaan. Penguasaan atas beberapa wilayah Cina tersebut  menandai dimulainya era baru Jepang sebagai negara imperialis.Kemenangan tersebut membawa dampak yang besar bagi bangsa Jepang untuk menjadi yang termaju di antara bangsa Asia lainnya.
Pada masa Perang Dunia Pertama, bangsa Jepang bergabung dengan negara-negara Barat untuk memerangi kekuatan militer Jerman dan Turki. Setelah peperangan ini berakhir pada tahun 1919, Liga Bangsa-Bangsa (LBB) menyerahkan seluruh jajahan Jerman di Pasifik Selatan kepada Pemerintah Jepang. Akan tetapi, pada sisi lain hasil-hasil ekspansi yang diperoleh tersebut melahirkan ketidakpuasan di kalangan sebagian masyarakat Jepang. Reaksi Kaum Pergerakan Indonesia Ketika Angkatan Laut Jepang mulai mengampanyekan rencana ekspansi ke wilayah Selatan

           


 Dari berbagai uraian saya bias ditarik sebuah garis lurus sebagai berikut
Tujuan Jepang menjadi Negara imperalisme adalah untuk menyamakan kedudukan dengan Negara lain khususnya Negara barat seperti Amerika Serikat, Inggris, Jerman, Perancis. Dengan melakukan ekspansionisme ke wilayah – wilayah yang memiliki potensi bahan-bahan mentah untuk memenuhi kebutuhan industrialisasi di Jepang. Bangsa Jepang mengamankan wilayah-wilayah yang mendukung proses industrialisasinya, baik wilayah yang memiliki sumber daya alam maupun wilayah yang memiliki potensi sebagai pasar hasil industrinya khususnya wilayah Indonesia yang memiliki kekayaan alam melimpah. Dan adanya restriksi (pembatasan) imigran jepang yang dilakukan oleh negara-negara barat, pengaruh ajaran Shinto tentang Hakko I Chi-u (dunia sebagai keluarga).
Dari perkembangan yang bertahap itu Jepang mengalami perkembangan pada saat pemerintahan Kaisar Meiji khususnya di bidang industri namun karena negara Jepang tidak memiliki bahan yang cukup dari negaranya sendiri maka Jepang harus mengimpor dari negara lain. Jepang mengalami kekacauan politik yang berdampak pada melemahnya perekonomian negara. Hal ini mengakibatkan kewibawaan Rezim Tokugawa di mata bangsa Jepang semakin melemah oleh karena itu melahirkan kesadaran nasional yang disimbolkan dengan munculnya gerakan anti-orang asing pada tahun 1860an yang dipelopori oleh kaum bangsawan desa atau kaum samurai rendahan (shishi).








Tidak ada komentar:

Poskan Komentar